Siang itu, kala sang hujan beristirahat dari aktivitasnya dan memberikan kesempatan kepada mentari untuk kembali menerangi bumi dengan sinarnya, aku lihat kamu hadir.
Hadir sesaat diantara kepergian hujan dan kedatangan mentari. Kamu hadir ditengah tetesan hujan dan sinar yang terpancar dari mentari.
Kamu memang berada menjadi yang ketiga antara hujan dan mentari, namun kamulah yang menyatukan keduanya hingga menjadi indah, menyatukan tetesan hujan dan sinar mentari menjadi warna warni yang membuat siapapun yang melihatnya akan terpana, menghadirkan senyum dan sering kali aku mendengar nyanyian tentangmu dari suara riang anak-anak kecil yang melihatmu, termasuk aku di waktu kecil.
Kamu mengajarkanku, kehadiranmu dapat membuat suasana menjadi berbeda, menjadi lebih indah. Dan saat kamu pergi, sebagian anak-anak masih bernyanyi seakan tak akan ingin kamu pergi. Karena yang mereka tahu, menyanyikan lagumu dapat menahan kamu sedikit lebih lama untuk tinggal di langit.
Tidak sedikit pula yang mengabadikan keberadaanmu dalam sebuah gambar, dan selalu mengingat kapan kemungkinan kamu hadir. Iya, seperti yang aku katakan tadi bahwa kamu hadir sebagai yang ketiga, namun bukan seperti kebanyakan yang memisahkan, kamu hadir menyatukan.
Belajar banyak darimu, kamu yang sangat indah, kamu yang selalu membekas dalam ingatanku.. Pelangi!!
‘Jika dapat aku ketahui apa yang akan terjadi padaku kelak, sudah pasti aku akan menjauhkan diriku dari hal-hal yang membuatku terluka.
Namun jika hal itu kulakukan maka tidak akan ada bahagia yang akan kurasakan, tidak akan ada kenangan indah
dan aku tidak akan pernah belajar menjadi perempuan yang lebih sabar dan lebih tegar seperti saat ini.’
-martinayosevina-
Selasa, 12 Juli 2016
Rabu, 18 Mei 2016
Backpakeran ke Bromo (April 2015)
Assalamu'alaikum..
Bromo dimana sih? Rasanya hampir semua orang indonesia mengetahui dimana itu bromo.. meskipun tidak sedikit pula yang belum pernah kesana.
Saya telah lama ingin pergi ke Bromo, tetapi yang ada di benak saya adalah.. pergi dengan siapa dan kira-kira berapa biaya keseluruhannya. Maklum saja saat saya menginginkan kesana, saya masih baru bekerja. Sudah pasti belum memiliki cuti dan masih lanjut kuliah lagi sehingga bentrok dengan waktu. Dan juga hanya memiliki budget yang pas-pasan.
Namun saat kesempatan itu datang, saya tidak menyia-nyiakan waktu.
Tujuan utama saya ke Blitar untuk menemui keponakan saya, dan janjian disana dengan kakak laki-laki saya.
Dari Blitar, saya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor bersama abang saya. Waktu yang saya butuhkan dari Blitar menuju ke Malang kurang lebih sekitar 1 jam (diperbatasan antara Blitar dan Malang sering diadakan razia, jadi persiapkan SIM bagi yang mengendarai kendaraan). Sampai di Malang, berbekal modal berani bertanya, akhirnya saya bisa sampai di Desa Gubuk Klakah (Sempat nyasar juga di tengah kota Malang, jadi kurang lebih 1 jam dari malang sampai ke desa terakhir di dekat Bromo).
Berhubung saya belum pernah kesana, jadi menyempatkan diri mampir ke air terjun Coban Pelangi.
Katanya sih kalau cuacanya cerah, di air terjun akan terlihat pelangi.. mungkin dikarenakan adanya embun yang diciptakan oleh air terjun bertemu dengan sinar matahari yang dapat menembus ke dalam embun.. ^^
Dan nasib saya saat itu kurang beruntung.. Sang pelangi pun tidak hadir >,<
Tiket masuk ke dalam air terjun coban pelangi cukup murah.. hanya saja jalanan yang harus dilewati dari parkiran hingga sampai ke air terjun cukup membuat urat kaki sedikit menegang,, hehehee
Pulang dari air terjun, saya mampir ke salah satu pedagang kopi yang berada di area perjalanan menuju ke air terjun. Dari beliau saya banyak memperoleh informasi. Hingga akhirnya beliau menawarkan jasa menginap dirumahnya.
Memang tujuan dari awalnya mau backpakeran sama abang, jadi sudah pasti saya dan abang langsung menerima tawaran menginap oleh pedagang kopi tersebut (beliau merupakan salah seorang penduduk desa gubuk klakah).
Sebenarnya bisa dikatakan tidak menginap, karena saya hanya menggunakan kamar dari jam 9 malam hingga jam 2 malam. Sesuai dengan perjanjian pada malam harinya, saya menyewa jasa motor (ngojek kali ya lebih tepatnya) dengan harga Rp. 75.000 per motor (per motor hanya membawa 1 orang), tukang ojek pun datang tepat waktu di jam 2 malam. Dan saat itu yang saya pikirkan hanya bagaimana caranya agar tubuh saya tetap hangat. Sudah pasti saya menggunakan kaos double, jaket tebal, kaos kaki, syal, sarung tangan. Saya pun tidak menolak ketika bapak pedagang kopi yang rumahnya saya gunakan untuk bermalam menawarkan teh manis panas.
Setelah merasa semuanya sudah OK, saya dan yang lainnya pun segera berangkat.
Tengah malam saya berpetualang di rerimbunan pohon yang kemudian dilanjutkan seperti di sebuah padang pasir. Sangat terasa oleh saya bahwa ban motor yang saya gunakan seperti mau terjatuh saat melewati jalanan berpasir itu, untung saja mas pengendaranya memang sudah ahli dan sudah sangat mengenal jalanan yang kami lewati.
Meskipun saat itu masih tengah malam menjelang subuh, sudah banyak mobil-mobil jeep yang berlalu lalang. Ada yang baru mau menjemput dan ada yang sudah menuju ke tempat penanjakan (tempat melihat sunrise).
Sebenarnya yang paling enak itu ya naik jeep. Sayangnya saya hanya berduaan dengan abang, jadi mau tidak mau naik motor, terlalu mahal jika kami harus membayar harga sewa 1 buah jeep hanya untuk berdua.. hehehee. Saat itu 1 mobil jeep disewakan sekitar Rp. 900.000. Dan 1 buah mobil jeep dapat membawa hingga 12 orang.
Dan saya pun akhirnya sampai di penanjakan 2 (dua), penanjakan yang terletak di tengah-tengah, sehingga tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah untuk melihat sunrise (yang tertinggi yaitu penanjakan 1, viewnya paling bagus dibanding yang lain).
Saya sampai di sunrise view point sekitar jam 04.00, dan matahari belum menampakkan kehadirannya. Saya menunggu di antara hembusan-hembusan angin yang terasa sangat kencang. Kemudian saya pun melakukan tayamum, dan dilanjutkan dengan shalat subuh di sebuah bangunan kecil yang mungkin biasanya dipergunakan untuk kumpul-kumpul. Subhanallah.. benar-benar saya merasakan suasana yang berbeda. Mukena pun tertiup oleh angin yang berhembus cukup kencang.
Suhu disini cukup dingin, namun tidak sedingin saat musim kemarau. Namun tetap saja bagi saya yang tidak kuat udara dingin, wajib banget menggunakan kaos kaki double, sarung tangan, jaket tebal dan syal.
This time untuk foto-fotoooooo.. meskipun ga dapet sunrise yang bagus, saya tetap berfoto-foto bersama abang saya. Untungnya si guide pinter mengabadikan moment saya bersama abang.
Setelah itu, dilanjutkan kembali ke kawah bromo. Lumayan juga untuk yang belum biasa mendaki, pasti akan tergiur dengan kuda yang ditawarkan disana. Alhamdulillah sang guide selalu menyemangati saya untuk tetap mendaki hingga ke tempat tujuan.
Sebelum sampai di kawah bromo, kita akan disambut oleh pemandangan hijau dari gunung batok. Kesempatan itu tentunya tidak saya sia-siakan untuk berfoto bersama abang saya. Gunung ini letaknya di tengah-tengah perjalanan ketika akan ke kawah bromo. Tepatnya sebelum tangga menuju kawah.
Ini mini mahameru, kawah bromo dan gunung batok ^_^
Saya telah lama ingin pergi ke Bromo, tetapi yang ada di benak saya adalah.. pergi dengan siapa dan kira-kira berapa biaya keseluruhannya. Maklum saja saat saya menginginkan kesana, saya masih baru bekerja. Sudah pasti belum memiliki cuti dan masih lanjut kuliah lagi sehingga bentrok dengan waktu. Dan juga hanya memiliki budget yang pas-pasan.
Namun saat kesempatan itu datang, saya tidak menyia-nyiakan waktu.
Tujuan utama saya ke Blitar untuk menemui keponakan saya, dan janjian disana dengan kakak laki-laki saya.
Ready untuk perjalanan dari Blitar ke Bromo dengan sepeda motor ^^
My Brother yang udah mau nemenin adiknya ke bromo
Perjalanan menuju desa Gubuk Klakah
Berhubung saya belum pernah kesana, jadi menyempatkan diri mampir ke air terjun Coban Pelangi.
Katanya sih kalau cuacanya cerah, di air terjun akan terlihat pelangi.. mungkin dikarenakan adanya embun yang diciptakan oleh air terjun bertemu dengan sinar matahari yang dapat menembus ke dalam embun.. ^^
Dan nasib saya saat itu kurang beruntung.. Sang pelangi pun tidak hadir >,<
Air terjun Coban Pelangi
Tiket masuk ke dalam air terjun coban pelangi cukup murah.. hanya saja jalanan yang harus dilewati dari parkiran hingga sampai ke air terjun cukup membuat urat kaki sedikit menegang,, hehehee
Pulang dari air terjun, saya mampir ke salah satu pedagang kopi yang berada di area perjalanan menuju ke air terjun. Dari beliau saya banyak memperoleh informasi. Hingga akhirnya beliau menawarkan jasa menginap dirumahnya.
Memang tujuan dari awalnya mau backpakeran sama abang, jadi sudah pasti saya dan abang langsung menerima tawaran menginap oleh pedagang kopi tersebut (beliau merupakan salah seorang penduduk desa gubuk klakah).
Sebenarnya bisa dikatakan tidak menginap, karena saya hanya menggunakan kamar dari jam 9 malam hingga jam 2 malam. Sesuai dengan perjanjian pada malam harinya, saya menyewa jasa motor (ngojek kali ya lebih tepatnya) dengan harga Rp. 75.000 per motor (per motor hanya membawa 1 orang), tukang ojek pun datang tepat waktu di jam 2 malam. Dan saat itu yang saya pikirkan hanya bagaimana caranya agar tubuh saya tetap hangat. Sudah pasti saya menggunakan kaos double, jaket tebal, kaos kaki, syal, sarung tangan. Saya pun tidak menolak ketika bapak pedagang kopi yang rumahnya saya gunakan untuk bermalam menawarkan teh manis panas.
Setelah merasa semuanya sudah OK, saya dan yang lainnya pun segera berangkat.
Tengah malam saya berpetualang di rerimbunan pohon yang kemudian dilanjutkan seperti di sebuah padang pasir. Sangat terasa oleh saya bahwa ban motor yang saya gunakan seperti mau terjatuh saat melewati jalanan berpasir itu, untung saja mas pengendaranya memang sudah ahli dan sudah sangat mengenal jalanan yang kami lewati.
Kalau musim kemarau tiba, suara pasir yang teriup angin seperti berbisik sesuatu ke telinga kita.
Maka dari itu dinamakan pasir berbisik.
Sebenarnya yang paling enak itu ya naik jeep. Sayangnya saya hanya berduaan dengan abang, jadi mau tidak mau naik motor, terlalu mahal jika kami harus membayar harga sewa 1 buah jeep hanya untuk berdua.. hehehee. Saat itu 1 mobil jeep disewakan sekitar Rp. 900.000. Dan 1 buah mobil jeep dapat membawa hingga 12 orang.
Jeep yang digunakan di bromo
Dan saya pun akhirnya sampai di penanjakan 2 (dua), penanjakan yang terletak di tengah-tengah, sehingga tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah untuk melihat sunrise (yang tertinggi yaitu penanjakan 1, viewnya paling bagus dibanding yang lain).
Pos penanjakan 2
Saya sampai di sunrise view point sekitar jam 04.00, dan matahari belum menampakkan kehadirannya. Saya menunggu di antara hembusan-hembusan angin yang terasa sangat kencang. Kemudian saya pun melakukan tayamum, dan dilanjutkan dengan shalat subuh di sebuah bangunan kecil yang mungkin biasanya dipergunakan untuk kumpul-kumpul. Subhanallah.. benar-benar saya merasakan suasana yang berbeda. Mukena pun tertiup oleh angin yang berhembus cukup kencang.
Suhu disini cukup dingin, namun tidak sedingin saat musim kemarau. Namun tetap saja bagi saya yang tidak kuat udara dingin, wajib banget menggunakan kaos kaki double, sarung tangan, jaket tebal dan syal.
This time untuk foto-fotoooooo.. meskipun ga dapet sunrise yang bagus, saya tetap berfoto-foto bersama abang saya. Untungnya si guide pinter mengabadikan moment saya bersama abang.
Ada sebagian yang mengira ini adalah bromo.. kata mas guide, ini tuh gunung batok.. hehehee
Sebelum sampai di kawah bromo, kita akan disambut oleh pemandangan hijau dari gunung batok. Kesempatan itu tentunya tidak saya sia-siakan untuk berfoto bersama abang saya. Gunung ini letaknya di tengah-tengah perjalanan ketika akan ke kawah bromo. Tepatnya sebelum tangga menuju kawah.
Ini adalah tangga yang harus dilalui untuk sampai ke atas, sedangkan dari bawah menuju kesini ada jalanan lain lagi yang harus dilalui.
Begitu saya melihat tangga ini, sempet mau mundur lagi. Tapi kebayang udah setengah perjalanan dilalui sampai kesini, walhasil niat mau mundur ga jadi deh. Pelan-pelan saya menapaki tangga, dan hasilnya... Amazing.. Pemandangan disana ga kalah memukau dengan sunrise point..
Rasa capeknya terbayarkan sama pemandangan ini :D
Mas guide menyarankan saya untuk turun tidak melalui tangga, melainkan melewati pasir-pasir di pinggiran kawah. Dan hasilnya, waktu yang saya butuhkan untuk turun tidak lama dan lebih bersemangat aja sayanya karena seperti main 'sosorodotan'.. hohohoo
Turunnya mah saya ga lewat tangga, lewat pasir jauh lebih cepat. Tapi harus hati-hati agar tidak terperosot jatuh.
Narsis dulu ah ^^
Pulangnya saya melewati pasir berbisik dan batu singa. Saya menyadari ternyata semalam saat saya dibonceng dengan motor, jalanan yang saya lewati bentuknya seperti ini. Pantas saja ban motor rasanya goyang-goyang mau terjatuh, ya namanya juga pasir yang di lewati..
Dinamakan batu singa karena dahulu mirip dengan kepala singa.
Saat ini sudah terkikis, sehingga tidak begitu mirip lagi dengan singa.
Dilanjutkan dengan bukit teletubbies yang letaknya tidak begitu jauh dari pasir berbisik. Disini, sepanjang jalan sebelum dan setelah bukit teletubbies, kita disuguhkan pemandangan hijau. Pokoknya ga habis-habis deh mata kita di segarkan oleh pemandangan nan indah. Subhanallah..
Bukit Teletubbies, tapi ga ada personilnya ya disini.. hehehee
Alhamdulillah liburan kali ini sangat menyenangkan. Waktu yang singkat (3 hari sudah termasuk mampir ke blitar) dan biaya yang tidak terlalu menguras dompet adalah bonus besar buat saya.
Bye Bromo.. ini bukan terakhir kali kita bertemu.
Mudah-mudahan lain waktu kita bertemu kembali ^^
Wassalamu'alaikum..
Senin, 16 Mei 2016
Pendakian Gunung Ciremai (Via Jalur Palutungan)
Assalamu'alaikum..
Terkadang yang direncanakan mendadak itu sering kali terlaksana.. iya kan? hehehee
Contoh untuk pendakian kali ini, yang merupakan rencana mendadak. Awalnya saya memilih untuk long weekend di Jakarta, tetapi akhirnya saya memutar arah untuk long weekend di Gunung Ciremai.
Perjalanan dimulai dengan penanjakan dari jalur palutungan. Sebenarnya ada 3 jalur yang bisa dilewati untuk ke puncak Ciremai, jalur apuy, jalur palutungan dan jalur linggar jati.
Ga ada alasan spesial kenapa saya dan yang lainnya memilih jalur palutungan, hanya saja karena jalur tersebut merupakan jalur terdekat dari rumah teman tempat saya menginap malam sebelumnya. Katanya sih jalur yang paling enak adalah jalur apuy, hanya saja letaknya di majalengka, kurang lebih 3 jam dari tempat saya menginap.
Tiket masuk untuk mendaki Ciremai dikenakan sebesar Rp. 43.500 per orang (May 2016). Sudah termasuk asuransi, ada fasilitas penginapan untuk pendaki dan juga ada fasilitas kamar mandi untuk pendaki di pos palutungan.
Sekitar 5 sampai 10 menit dari tempat start, kita langsung di suguhkan jalan yang cukup menanjak. Bukan hanya jalanan yang menanjak, setelah itu kita juga disuguhkan jalanan di pinggir sawah yang sangat becek (saat mendaki, hujan menemani beberapa waktu). Kurang lebih membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di sebuah gubug. Lumayan bisa beristirahat sebentar untuk meluruskan kaki dan meringankan beban di pundak.
Karena sudah maghrib, kami segera melanjutkan perjalanan menuju pos ke 1 (Cigowong).
Jarak dari gubug ke pos 1 menurut saya adalah jarak terjauh antar pos yang berada di jalur palutungan. Ini adalah kali pertama saya mendaki gunung di malam hari. Memang enak juga sih, adem karena tidak ada cahaya matahari. Tetapi sudah pasti udara jauh lebih dingin. Kalau melakukan pendakian malam hari, sebaiknya jangan berhenti bergerak. Karena kalau kita berhenti bergerak (diam), dingin akan segera terasa seperti menusuk tubuh kita. Kurang lebih sekitar 3 jam kemudian saya baru sampai di pos cigowong. Karena waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, maka saya dan rombongan memutuskan untuk bermalam di cigowong. Di pos 1 ini terdapat kamar mandi dan sungai. Kalau persediaan air dari bawah sudah mulai berkurang, segera isi di pos cigowong. Karena setelah pos ini kita akan sulit menemukan air. Di pos cigowong pun terdapat 2 warung kopi, menjual gorengan, minuman panas, mie dan cemilan lainnya.
Keesokannya kami memutuskan untuk berangkat tidak terlalu pagi, jadi bisa beristirahat cukup lama. Dan ternyata hujan pun kembali turun saat kami sedang packing. Mau tidak mau kami menunggu hujan mereda, dan akhirnya sekitar jam 12.30 kami mulai mendaki kembali.
Setelah pos cigowong pun akhirnya kami melewati pos kuta (pos 2) dan pangguyungan badak (pos 3), hingga akhirnya hujan kembali turun dan semakin deras setelah melewati pos pangguyungan badak. Saya dan rombongan pun menghentikan pendakian kami di pos arban (pos 4) dan bermalam disana. Persediaan air pun sudah kembali berkurang. Penanjakan ciremai mengajarkan kita bagaimana me-manage air.
Keesokannya kami kembali melanjutkan pendakian, namun kali ini kami tidak membawa barang-barang. Semua ditaruh di tenda di pos arban, hanya barang-barang penting dan beberapa botol minuman yang kami bawa sebagai perbekalan. Kesalahan kami saat itu adalah tidak membawa jas hujan, mungkin karena saya dan yang lainnya begitu terpesona dengan cerahnya sinar mentari. Dan juga tidak membawa senjata apapun untuk berlindung kalau-kalau saja ada binatang buas.
Setelah pos arban, saya menemukan pos dengan nama yang begitu unik "tanjakan asoy". Dan ternyata benar sekali kalau tanjakan yang disuguhkan setelah pos ini begitu "assssoooooyy" banget bangetttt deh. Kemiringannya sekitar 70 hingga 80 derajat. Jalanan yang landai hanya sedikit saja. Dan ini berlangsung hingga ke pos pesanggrahan dan pos sanghyang ropoh. Setelah pos sanghyang ropoh, kita akan menemukan pertigaan. Sebuah jalan pertemuan antara jalur apuy dari majalengka dengan jalur palutungan dari kuningan. Jalan bebatuan pun mulai disuguhkan pada jalur ini, kemiringan tetap berada pada 70 hinga 80 derajat Harus pintar memilih jalan agar tidak terpeleset.
Gerimis pun mengundang (kayak lagu aja.. hahahhaa). Tapi seriusan ya.. gerimis mulai turun. Saya sih memakai jaket, hanya saja yang lainnya tidak memakai jaket. Dan ketika kami sudah sedikit lagi sampai di pos gua walet, hujan semakin deras, geluduk mulai terdengar, kabut begitu gelap. Tidak mau ambil risiko, saya dan rombongan memutuskan untuk putar balik kembali kebawah.
Dari awal kami menanjak, tujuan kami memang summit di ciremai. Hanya saja keselamatan selalu kami utamakan. Ga ngoyo lah ya lebih tepatnya. Bisa summit adalah bonus untuk kami. Tidak bisa summit kali ini, insya Allah ada kesempatan di lain waktu.
Perkiraan saya, perjalanan pulang akan lebih mudah dari perjalanan berangkat. Ternyata sama-sama membutuhkan tenaga yang 'wooow'. Kenapa saya bilang seperti itu? Turun dari jalan dengan kemiringan 70 hingga 80 derajat, hujan deras, kabut tebal, angin kencang, akan lebih mengeluarkan tenaga ekstra. Jalanan yang licin membuat saya mengatur kaki menapaki jalan secara perlahan (agar tidak terjatuh), ditambah baju yang sudah lepek (basah karena hujan) dan dingin mulai merasuki tubuh saya dan yang lainnya. Untuk mengurangi rasa dingin, kami pun saling berpegangan tangan satu sama lain.
Ketika di pos pesanggrahan kami bertemu dengan pendaki yang sebelumnya kami temui ketika kami mendaki. Mereka menawari kami minuman panas dan kue (penawaran bukan sekedar basa basi, mereka memaksa kami mampir ke tempat mereka berteduh dibawah fly sheet). Disini lah pelajaran yang saya dapatkan, bagaimana kita bisa bertahan hidup dan mampu membantu orang lain untuk bertahan hidup. Hidup itu tidak hanya egois memikirkan keselamatan diri sendiri, tetapi juga sambil memikirkan keselamatan orang lain.
Setelah kami merasa perut sudah agak terisi, kami kembali melanjutkan perjalanan turun gunung. Tidak jauh dari tempat berhenti tadi, saya melihat ada seekor babi hutan yang cukup besar berlari menuju kebawah di rimbunnya pepohonan. Secara reflek saya memberitahu yang lainnya. Awalnya kami yang sudah kehabisan tenaga untuk menuruni jalanan setapak demi setapak, namun karena adanya babi hutan kami pun (dengan tenaga yang entah dari mana datangnya) langsung berlari kembali ke arah atas, menanjak dengan cepat tanpa basa basi. Saat itu kami semua panik, memikirkan bagaimana jika babi hutan tersebut datang menghampiri dan menyerang kami. Dengan segera kami mencari kayu sebagai pertahanan jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, kemudian kami melanjutkan perjalanan turun gunung.
Saat kejadian memang panik ga ada duanya. Tetapi saat ini, kalau membayangkan kejadian itu yang ada membuat saya tertawa. Karena saya dan rombongan yang sudah lemas lunglai langsung mendadak menjadi kuat, seketika itu juga mampu melewati tanjakan.. hehehee (emang bener ya.. kalau sudah terpaksa, yang tadinya ga bisa juga pasti bisa ^^ )
Akhirnya kami sampai di pos arban, tempat kami memasang tenda semalam. Tanpa buang-buang waktu kami pun langsung packing. Saya melirik jam, ternyata sudah jam 4 sore. Tidak terasa 3 jam dari atas turun hingga ke arban. Setelah 1 jam packing, jam 5 kami mulai melanjutkan perjalanan turun ke kaki gunung. Hujan saat itu sudah agak reda, namun tidak lama kemudian hujan kembali turun dengan derasnya. Jas hujan sudah kami kenakan sejak di pos arban, jadi sudah terlindungi dari hujan. Masing-masing dari kami awalnya 1 orang membawa 1 buah senter, namun kendala ada saja. Ada 2 orang yang batu baterainya sudah habis dan ada 1 orang lagi yang sudah meredup. Kebayang kan kalau sampai gelap-gelapan di malam hari dalam hutan? Kami pun mengatur pencahayaan, yang tidak membawa senter berjalan di belakang yang membawa senter dengan pencahayaan lebih terang. Untung saja power bank yang saya bawa ada lampu senternya, jadi cukup membantu.
Jalanan di malam itu beceknya benar-benar juaraaaaaaa.. seperti berjalan di dalam lumpur. Kaki mulai terasa lemas, bahu terasa semakin panas, tenaga sudah tinggal beberapa persen, persediaan air minum pun sudah menipis. Konsenterasi saya saat itu sudah mulai berkurang, sehingga beberapa kali saya hampir terpeleset. Beberapa kali rombongan kami dan rombongan yang di depan kami berhenti untuk istirahat sejenak. Semangat saya masih ada saat itu, saya semangat karena mau buru-buru ketemu kasur empuk,, hehehee.
Dan salah satu teman dari rombongan saya sepertinya sudah mulai ngedrop, dia terjatuh beberapa kali hingga jas ujan dan jaket serta tas carrier miliknya terkena tanah becek. Namun begitu ditanya, dia mengatakan tidak apa-apa. Jalanan becek plus licin terus kami lalui perlahan-lahan, hingga akhirnya kami mendengar suara knalpot motor, itu pertanda kami sudah hampir sampai di pos cigowong. Disana ada warung dan ada ojek motor trail.
Tidak lama kemudian kami sampai di pos cigowong, perjalanan dari pos arban menuju pos cigowong dalam keadaan hujan sekitar 2,5 jam. Dengan segera saya menuju kamar mandi untuk mencuci kaki yang penuh dengan tanah merah dan juga mengisi persediaan minum (airnya dari mata air langsung yang di alirkan lewat paralon, rasanya segar seperti air minum dalam kemasan merk ternama.. hohohoo). Selesai bermain air, saya pun langsung ke warung memesan makanan dan minuman panas. 1 jam tidak terasa kami habiskan untuk beristirahat. Dan teman kami yang sejak di perjalanan sering terjatuh akhirnya dengan malu-malu mengakui bahwa tubuhnya sudah mulai ngedrop. Kami pun memutuskan menyewa ojek untuk teman kami (2 orang). Biaya ojek untuk tarif siang sampai sore katanya 80 ribu, karena sudah malam maka dikenakan 100 ribu. Melihat ada kesempatan, saya dan teman saya yang perempuan satu lagi memutuskan untuk menitipkan tas kami pada kedua orang yang menaiki ojek motor trail ^^
Beban berat sudah dititipkan dan perut pun sudah terisi kembali, alhamdulillah kondisi saya sudah jauh lebih baik. Semangat 45 untuk turun gunung lagi. Kali ini perjalanan dari pos cigowong menuju tempat tujuan hanya rombongan kami saja yang sisa 4 orang, tidak ada 1 rombongan pun yang berada di sekitar kami. Jujur saja, sempat tersirat rasa takut. Malam-malam di tengah hutan berempatan itu rasanya sesuatu bgt. Headlamp saya pun sudah mulai meredup. Benar-benar butuh pintu doraemon deh.. hehehee
Akhirnya saya pun sampai di pos palutungan jam 23.30, yups.. jam setengah 12 malam. Ada keanehan yang saya rasakan, disaat yang lainnya merasakan kedinginan sedangkan saya merasa hangat saat itu. Saya pun tersadar, ternyata saya menggunakan 2 jaket berbahan polar dan 1 jaket double polar. Gimana ga hangat kan? hahhaaa..
Track pendakian ciremai sungguh track yang luar biasa bagi seorang pendaki pemula seperti saya. Maklum saja gunung yang ketinggiannya mencapai 3.078m itu merupakan gunung tertinggi se jawa barat.
PR banget untuk balik lagi kesana dan menyelesaikan hingga summit.
Semangat!!
Wassalamu'alaikum..
Terkadang yang direncanakan mendadak itu sering kali terlaksana.. iya kan? hehehee
Contoh untuk pendakian kali ini, yang merupakan rencana mendadak. Awalnya saya memilih untuk long weekend di Jakarta, tetapi akhirnya saya memutar arah untuk long weekend di Gunung Ciremai.
Perjalanan dimulai dengan penanjakan dari jalur palutungan. Sebenarnya ada 3 jalur yang bisa dilewati untuk ke puncak Ciremai, jalur apuy, jalur palutungan dan jalur linggar jati.
Ga ada alasan spesial kenapa saya dan yang lainnya memilih jalur palutungan, hanya saja karena jalur tersebut merupakan jalur terdekat dari rumah teman tempat saya menginap malam sebelumnya. Katanya sih jalur yang paling enak adalah jalur apuy, hanya saja letaknya di majalengka, kurang lebih 3 jam dari tempat saya menginap.
Tiket masuk untuk mendaki Ciremai dikenakan sebesar Rp. 43.500 per orang (May 2016). Sudah termasuk asuransi, ada fasilitas penginapan untuk pendaki dan juga ada fasilitas kamar mandi untuk pendaki di pos palutungan.
Sekitar 5 sampai 10 menit dari tempat start, kita langsung di suguhkan jalan yang cukup menanjak. Bukan hanya jalanan yang menanjak, setelah itu kita juga disuguhkan jalanan di pinggir sawah yang sangat becek (saat mendaki, hujan menemani beberapa waktu). Kurang lebih membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di sebuah gubug. Lumayan bisa beristirahat sebentar untuk meluruskan kaki dan meringankan beban di pundak.
Karena sudah maghrib, kami segera melanjutkan perjalanan menuju pos ke 1 (Cigowong).
Team pendakian Gunung Ciremai 06 - 08 May 2016
Keesokannya kami memutuskan untuk berangkat tidak terlalu pagi, jadi bisa beristirahat cukup lama. Dan ternyata hujan pun kembali turun saat kami sedang packing. Mau tidak mau kami menunggu hujan mereda, dan akhirnya sekitar jam 12.30 kami mulai mendaki kembali.
Ini nasi plus mie goreng ala-ala saya.. hehehee (Ikan mah bekal dari ibunya teman ^^)
Setelah pos cigowong pun akhirnya kami melewati pos kuta (pos 2) dan pangguyungan badak (pos 3), hingga akhirnya hujan kembali turun dan semakin deras setelah melewati pos pangguyungan badak. Saya dan rombongan pun menghentikan pendakian kami di pos arban (pos 4) dan bermalam disana. Persediaan air pun sudah kembali berkurang. Penanjakan ciremai mengajarkan kita bagaimana me-manage air.
Pos Cigowong
Keesokannya kami kembali melanjutkan pendakian, namun kali ini kami tidak membawa barang-barang. Semua ditaruh di tenda di pos arban, hanya barang-barang penting dan beberapa botol minuman yang kami bawa sebagai perbekalan. Kesalahan kami saat itu adalah tidak membawa jas hujan, mungkin karena saya dan yang lainnya begitu terpesona dengan cerahnya sinar mentari. Dan juga tidak membawa senjata apapun untuk berlindung kalau-kalau saja ada binatang buas.
Setelah pos arban, saya menemukan pos dengan nama yang begitu unik "tanjakan asoy". Dan ternyata benar sekali kalau tanjakan yang disuguhkan setelah pos ini begitu "assssoooooyy" banget bangetttt deh. Kemiringannya sekitar 70 hingga 80 derajat. Jalanan yang landai hanya sedikit saja. Dan ini berlangsung hingga ke pos pesanggrahan dan pos sanghyang ropoh. Setelah pos sanghyang ropoh, kita akan menemukan pertigaan. Sebuah jalan pertemuan antara jalur apuy dari majalengka dengan jalur palutungan dari kuningan. Jalan bebatuan pun mulai disuguhkan pada jalur ini, kemiringan tetap berada pada 70 hinga 80 derajat Harus pintar memilih jalan agar tidak terpeleset.
Ini dia penampakan pos tanjakan asoy
Gerimis pun mengundang (kayak lagu aja.. hahahhaa). Tapi seriusan ya.. gerimis mulai turun. Saya sih memakai jaket, hanya saja yang lainnya tidak memakai jaket. Dan ketika kami sudah sedikit lagi sampai di pos gua walet, hujan semakin deras, geluduk mulai terdengar, kabut begitu gelap. Tidak mau ambil risiko, saya dan rombongan memutuskan untuk putar balik kembali kebawah.
Dari awal kami menanjak, tujuan kami memang summit di ciremai. Hanya saja keselamatan selalu kami utamakan. Ga ngoyo lah ya lebih tepatnya. Bisa summit adalah bonus untuk kami. Tidak bisa summit kali ini, insya Allah ada kesempatan di lain waktu.
Setelah perbatasan ini kita akan bertemu dengan pos selanjutnya, yaitu gua walet..
Perkiraan saya, perjalanan pulang akan lebih mudah dari perjalanan berangkat. Ternyata sama-sama membutuhkan tenaga yang 'wooow'. Kenapa saya bilang seperti itu? Turun dari jalan dengan kemiringan 70 hingga 80 derajat, hujan deras, kabut tebal, angin kencang, akan lebih mengeluarkan tenaga ekstra. Jalanan yang licin membuat saya mengatur kaki menapaki jalan secara perlahan (agar tidak terjatuh), ditambah baju yang sudah lepek (basah karena hujan) dan dingin mulai merasuki tubuh saya dan yang lainnya. Untuk mengurangi rasa dingin, kami pun saling berpegangan tangan satu sama lain.
Ketika di pos pesanggrahan kami bertemu dengan pendaki yang sebelumnya kami temui ketika kami mendaki. Mereka menawari kami minuman panas dan kue (penawaran bukan sekedar basa basi, mereka memaksa kami mampir ke tempat mereka berteduh dibawah fly sheet). Disini lah pelajaran yang saya dapatkan, bagaimana kita bisa bertahan hidup dan mampu membantu orang lain untuk bertahan hidup. Hidup itu tidak hanya egois memikirkan keselamatan diri sendiri, tetapi juga sambil memikirkan keselamatan orang lain.
Setelah kami merasa perut sudah agak terisi, kami kembali melanjutkan perjalanan turun gunung. Tidak jauh dari tempat berhenti tadi, saya melihat ada seekor babi hutan yang cukup besar berlari menuju kebawah di rimbunnya pepohonan. Secara reflek saya memberitahu yang lainnya. Awalnya kami yang sudah kehabisan tenaga untuk menuruni jalanan setapak demi setapak, namun karena adanya babi hutan kami pun (dengan tenaga yang entah dari mana datangnya) langsung berlari kembali ke arah atas, menanjak dengan cepat tanpa basa basi. Saat itu kami semua panik, memikirkan bagaimana jika babi hutan tersebut datang menghampiri dan menyerang kami. Dengan segera kami mencari kayu sebagai pertahanan jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, kemudian kami melanjutkan perjalanan turun gunung.
Saat kejadian memang panik ga ada duanya. Tetapi saat ini, kalau membayangkan kejadian itu yang ada membuat saya tertawa. Karena saya dan rombongan yang sudah lemas lunglai langsung mendadak menjadi kuat, seketika itu juga mampu melewati tanjakan.. hehehee (emang bener ya.. kalau sudah terpaksa, yang tadinya ga bisa juga pasti bisa ^^ )
Akhirnya kami sampai di pos arban, tempat kami memasang tenda semalam. Tanpa buang-buang waktu kami pun langsung packing. Saya melirik jam, ternyata sudah jam 4 sore. Tidak terasa 3 jam dari atas turun hingga ke arban. Setelah 1 jam packing, jam 5 kami mulai melanjutkan perjalanan turun ke kaki gunung. Hujan saat itu sudah agak reda, namun tidak lama kemudian hujan kembali turun dengan derasnya. Jas hujan sudah kami kenakan sejak di pos arban, jadi sudah terlindungi dari hujan. Masing-masing dari kami awalnya 1 orang membawa 1 buah senter, namun kendala ada saja. Ada 2 orang yang batu baterainya sudah habis dan ada 1 orang lagi yang sudah meredup. Kebayang kan kalau sampai gelap-gelapan di malam hari dalam hutan? Kami pun mengatur pencahayaan, yang tidak membawa senter berjalan di belakang yang membawa senter dengan pencahayaan lebih terang. Untung saja power bank yang saya bawa ada lampu senternya, jadi cukup membantu.
Jalanan di malam itu beceknya benar-benar juaraaaaaaa.. seperti berjalan di dalam lumpur. Kaki mulai terasa lemas, bahu terasa semakin panas, tenaga sudah tinggal beberapa persen, persediaan air minum pun sudah menipis. Konsenterasi saya saat itu sudah mulai berkurang, sehingga beberapa kali saya hampir terpeleset. Beberapa kali rombongan kami dan rombongan yang di depan kami berhenti untuk istirahat sejenak. Semangat saya masih ada saat itu, saya semangat karena mau buru-buru ketemu kasur empuk,, hehehee.
Dan salah satu teman dari rombongan saya sepertinya sudah mulai ngedrop, dia terjatuh beberapa kali hingga jas ujan dan jaket serta tas carrier miliknya terkena tanah becek. Namun begitu ditanya, dia mengatakan tidak apa-apa. Jalanan becek plus licin terus kami lalui perlahan-lahan, hingga akhirnya kami mendengar suara knalpot motor, itu pertanda kami sudah hampir sampai di pos cigowong. Disana ada warung dan ada ojek motor trail.
Tidak lama kemudian kami sampai di pos cigowong, perjalanan dari pos arban menuju pos cigowong dalam keadaan hujan sekitar 2,5 jam. Dengan segera saya menuju kamar mandi untuk mencuci kaki yang penuh dengan tanah merah dan juga mengisi persediaan minum (airnya dari mata air langsung yang di alirkan lewat paralon, rasanya segar seperti air minum dalam kemasan merk ternama.. hohohoo). Selesai bermain air, saya pun langsung ke warung memesan makanan dan minuman panas. 1 jam tidak terasa kami habiskan untuk beristirahat. Dan teman kami yang sejak di perjalanan sering terjatuh akhirnya dengan malu-malu mengakui bahwa tubuhnya sudah mulai ngedrop. Kami pun memutuskan menyewa ojek untuk teman kami (2 orang). Biaya ojek untuk tarif siang sampai sore katanya 80 ribu, karena sudah malam maka dikenakan 100 ribu. Melihat ada kesempatan, saya dan teman saya yang perempuan satu lagi memutuskan untuk menitipkan tas kami pada kedua orang yang menaiki ojek motor trail ^^
Beban berat sudah dititipkan dan perut pun sudah terisi kembali, alhamdulillah kondisi saya sudah jauh lebih baik. Semangat 45 untuk turun gunung lagi. Kali ini perjalanan dari pos cigowong menuju tempat tujuan hanya rombongan kami saja yang sisa 4 orang, tidak ada 1 rombongan pun yang berada di sekitar kami. Jujur saja, sempat tersirat rasa takut. Malam-malam di tengah hutan berempatan itu rasanya sesuatu bgt. Headlamp saya pun sudah mulai meredup. Benar-benar butuh pintu doraemon deh.. hehehee
Akhirnya saya pun sampai di pos palutungan jam 23.30, yups.. jam setengah 12 malam. Ada keanehan yang saya rasakan, disaat yang lainnya merasakan kedinginan sedangkan saya merasa hangat saat itu. Saya pun tersadar, ternyata saya menggunakan 2 jaket berbahan polar dan 1 jaket double polar. Gimana ga hangat kan? hahhaaa..
Track pendakian ciremai sungguh track yang luar biasa bagi seorang pendaki pemula seperti saya. Maklum saja gunung yang ketinggiannya mencapai 3.078m itu merupakan gunung tertinggi se jawa barat.
PR banget untuk balik lagi kesana dan menyelesaikan hingga summit.
Semangat!!
Wassalamu'alaikum..
Selasa, 26 April 2016
Menunggu
Assalamu'alaikum..
Banyak yang bilang menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Saya sih setuju dengan pendapat kebanyakan orang yang bilang seperti itu. Menunggu merupakan hal yang tidak disukai banyak orang. Menunggu bus, menunggu saat janjian, menunggu pesawat delay, masih banyak menunggu lainnya.
Namun ada suatu pelajaran yang di dapatkan saat menunggu, yups.. menunggu mengajarkan kita kesabaran. Bersabar bahwa apa yang terjadi belum tentu sesuai dengan perkiraan atau pun harapan kita.
Misal menunggu hasil yang baik ternyata hasil yang di dapat tidak baik, berarti kita harus mencoba lebih giat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya.
Ada hal yang memang sudah pasti tepat waktunya tetapi tetap ditunggu kebanyakan orang, biasanya ini terjadi pada para pekerja. Yaitu menunggu jam istirahat, menunggu jam pulang, menunggu hari sabtu minggu dan tentunya menunggu hari gajian tiba,, semakin ditunggu semakin berasa lama tiba waktunya.. (ayo ngacung tangannya yang suka nungguin hal-hal yang baru saya sebutin.. hahahaa).
Menunggu ada pula yang membuat hati dag dig dug, misal menunggu hasil ujian (test), menunggu pada saat ingin di interview, atau bahkan menunggu 'gebetan' datang pada saat janjian (ini sih udah pasti dag dig dug banget ^_^).
Menunggu seseorang berubah dari sifat buruknya? hohoho.. Kalau untuk yang ini sih butuh kesabaran yang teramat sangat, apalagi jika orang tersebut tidak pernah tersadar atas sifat buruk yang dimilikinya. Lebih baik dibatasi waktu untuk menunggu untuk hal yang satu ini, karena akan membuang waktumu menunggu hal yang masih teramat abu-abu. Maksimalkan aja apa yang akan kamu usahakan untuk merubah sifat burukmya, tetapi kalau itu sudah watak saran saya sih segera ambil keputusan untuk 'tinggalkan' meskipun kamu belum menemukan pengganti. Jangan habiskan waktumu, waktu itu akan terus melaju, jadi manfaatkan sebaik mungkin. Jangan ada sesal di akhir karena menunggu terlalu lama.
Ada pula menunggu yang menjadi pilihan terakhir ketika orang yang kita sayang telah mendapatkan pasangan.. apalagi kalau bukan menunggu dia berpisah dengan pasangannya. Sebenarnya sih saya ga setuju (ga enak lho rasanya kalau kita sedang menjalani hubungan dan ternyata ada yang menungggu kita berpisah dengan pasangan kita), tetapi daripada menjadi orang ketiga (saya lebih tidak setuju dengan orang ketiga) yang menghancurkan hubungan orang lain ya jauh lebih baik menunggu saja dan ingat jangan dibarengi dengan doa semoga cepat berpisah.
Menunggu orang yang menyakiti kita merasakan sakit di kemudian hari? Memang begitu yang seharusnya kita lakukan. Tidak perlu membalas ini dan itu disaat ini. Serahkan segalanya kepada yang Maha Mengetahui, karena hanya Allah SWT yang paling tau apa yang pantas diterima dia dan kapan waktu yang tepat untuk dia menerima apa yang telah dia perbuat sebelumnya :)
Ada lagi yang sudah wajib hukumnya bagi kita menunggu dengan sabar seberapa pun lamanya. Ada yang tau? Jawabannya menunggu jodoh.. hehehee
Wajib banget untuk hal yang satu ini. Jodoh sudah pasti tepat orangnya, tepat waktunya. Allah SWT sudah mengatur dengan baik, sudah yang terbaik dari Allah SWT untuk semua ummatNya. Jadi yang sabar ya untuk yang masih single, jangan lupa ikhtiar juga.. ^^
Ada seninya juga ya ketika kita menunggu.. mendapatkan pelajaran sabar, terkadang ada rasa bosan, ada pula timbulnya perasaan dag dig dug ketika menunggu hal tertentu.
Wassalamu'alaikum..
Banyak yang bilang menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Saya sih setuju dengan pendapat kebanyakan orang yang bilang seperti itu. Menunggu merupakan hal yang tidak disukai banyak orang. Menunggu bus, menunggu saat janjian, menunggu pesawat delay, masih banyak menunggu lainnya.
Namun ada suatu pelajaran yang di dapatkan saat menunggu, yups.. menunggu mengajarkan kita kesabaran. Bersabar bahwa apa yang terjadi belum tentu sesuai dengan perkiraan atau pun harapan kita.
Misal menunggu hasil yang baik ternyata hasil yang di dapat tidak baik, berarti kita harus mencoba lebih giat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya.
Ada hal yang memang sudah pasti tepat waktunya tetapi tetap ditunggu kebanyakan orang, biasanya ini terjadi pada para pekerja. Yaitu menunggu jam istirahat, menunggu jam pulang, menunggu hari sabtu minggu dan tentunya menunggu hari gajian tiba,, semakin ditunggu semakin berasa lama tiba waktunya.. (ayo ngacung tangannya yang suka nungguin hal-hal yang baru saya sebutin.. hahahaa).
Menunggu ada pula yang membuat hati dag dig dug, misal menunggu hasil ujian (test), menunggu pada saat ingin di interview, atau bahkan menunggu 'gebetan' datang pada saat janjian (ini sih udah pasti dag dig dug banget ^_^).
Menunggu seseorang berubah dari sifat buruknya? hohoho.. Kalau untuk yang ini sih butuh kesabaran yang teramat sangat, apalagi jika orang tersebut tidak pernah tersadar atas sifat buruk yang dimilikinya. Lebih baik dibatasi waktu untuk menunggu untuk hal yang satu ini, karena akan membuang waktumu menunggu hal yang masih teramat abu-abu. Maksimalkan aja apa yang akan kamu usahakan untuk merubah sifat burukmya, tetapi kalau itu sudah watak saran saya sih segera ambil keputusan untuk 'tinggalkan' meskipun kamu belum menemukan pengganti. Jangan habiskan waktumu, waktu itu akan terus melaju, jadi manfaatkan sebaik mungkin. Jangan ada sesal di akhir karena menunggu terlalu lama.
Ada pula menunggu yang menjadi pilihan terakhir ketika orang yang kita sayang telah mendapatkan pasangan.. apalagi kalau bukan menunggu dia berpisah dengan pasangannya. Sebenarnya sih saya ga setuju (ga enak lho rasanya kalau kita sedang menjalani hubungan dan ternyata ada yang menungggu kita berpisah dengan pasangan kita), tetapi daripada menjadi orang ketiga (saya lebih tidak setuju dengan orang ketiga) yang menghancurkan hubungan orang lain ya jauh lebih baik menunggu saja dan ingat jangan dibarengi dengan doa semoga cepat berpisah.
Menunggu orang yang menyakiti kita merasakan sakit di kemudian hari? Memang begitu yang seharusnya kita lakukan. Tidak perlu membalas ini dan itu disaat ini. Serahkan segalanya kepada yang Maha Mengetahui, karena hanya Allah SWT yang paling tau apa yang pantas diterima dia dan kapan waktu yang tepat untuk dia menerima apa yang telah dia perbuat sebelumnya :)
Ada lagi yang sudah wajib hukumnya bagi kita menunggu dengan sabar seberapa pun lamanya. Ada yang tau? Jawabannya menunggu jodoh.. hehehee
Wajib banget untuk hal yang satu ini. Jodoh sudah pasti tepat orangnya, tepat waktunya. Allah SWT sudah mengatur dengan baik, sudah yang terbaik dari Allah SWT untuk semua ummatNya. Jadi yang sabar ya untuk yang masih single, jangan lupa ikhtiar juga.. ^^
Ada seninya juga ya ketika kita menunggu.. mendapatkan pelajaran sabar, terkadang ada rasa bosan, ada pula timbulnya perasaan dag dig dug ketika menunggu hal tertentu.
Wassalamu'alaikum..
Jumat, 26 Februari 2016
Test Kesehatan & Test Narkoba di RSUD
Assalamu'alaikum..
Saat kita ingin melamar pekerjaan di sebuah instansi, namun diminta untuk test kesehatan (Medical Check Up) dan test narkoba dari Rumah Sakit Umum (RSU), maka segeralah melakukan test tersebut.
Terkadang terbayangkan oleh kita lamanya test dan repotnya proses test yang akan kita jalani. Nyatanya tidak selama dan serepot yang kita bayangkan. Untuk yang masih bekerja bisa ijin setengah hari atau bahkan bisa ijin telat datang agak siang aja kok ^^
Saya baru saja melakukan Medical Check Up (MCU) di RSUD Kabupaten Tangerang. Biaya yang dikenakan sebesar Rp. 30.000 untuk biaya test kesehatan (paket A1), Rp. 130.000 untuk test narkoba (test urine) dan Rp. 20.000 untuk surat keterangan bebas narkoba.
Langkah awal adalah persiapkan fotocopy KTP sebanyak 2 lembar. Fotocopy KTP diberikan pada saat kita mendaftar. Hal ini penting, karena akan repot jika kita harus mencari tempat fotocopyan lagi. Jadi persiapkan fotocopy KTP-nya, periksa sebelum berangkat dan jangan sampai ketinggalan.
Setelah itu kita akan diberikan form dan diperintahkan untuk membayar di kasir biaya yang telah saya sebutkan tadi. Dari kasir, kita diberikan form dan diperintahkan langsung menuju ke Lab untuk pemeriksaan narkoba. Segera berikan form tersebut pada petugas agar dapat ikut mengantri.
Nama kita akan dipanggil dan diberikan tempat untuk menaruh urine kita. Hasilnya cepat, sekitar 20 menit (mungkin saat itu sedikit yang mengantri). Dilanjutkan untuk kembali ke gedung MCU untuk test kesehatan. Di gedung MCU sudah standby dokter yang akan memeriksa denyut nadi, detak jantung dan tensi kita.
Hanya itu saja? Iya hanya itu saja test kesehatan yang dijalani untuk paket A1. Jadi test kesehatan tergantung paket apa yang akan kita ambil.
Selesai diperiksa tensi darah, denyut nadi dan detak jantung maka selesai pula serangkaian proses MCU. Kurang lebih hanya 1 jam saja. Saran saya kalau mau lebih cepat maka datanglah pada saat pembukaan pendaftaran, yaitu jam 08.00. Pelayanan MCU di RSUD rata-rata dari jam 08.00 sampai jam 12.00. Dan pendaftaran akan ditutup jam 11.00.
Semoga bermanfaat untuk postingan kali ini..
Wassalamu'alaikum..
Saat kita ingin melamar pekerjaan di sebuah instansi, namun diminta untuk test kesehatan (Medical Check Up) dan test narkoba dari Rumah Sakit Umum (RSU), maka segeralah melakukan test tersebut.
Terkadang terbayangkan oleh kita lamanya test dan repotnya proses test yang akan kita jalani. Nyatanya tidak selama dan serepot yang kita bayangkan. Untuk yang masih bekerja bisa ijin setengah hari atau bahkan bisa ijin telat datang agak siang aja kok ^^
Saya baru saja melakukan Medical Check Up (MCU) di RSUD Kabupaten Tangerang. Biaya yang dikenakan sebesar Rp. 30.000 untuk biaya test kesehatan (paket A1), Rp. 130.000 untuk test narkoba (test urine) dan Rp. 20.000 untuk surat keterangan bebas narkoba.
Langkah awal adalah persiapkan fotocopy KTP sebanyak 2 lembar. Fotocopy KTP diberikan pada saat kita mendaftar. Hal ini penting, karena akan repot jika kita harus mencari tempat fotocopyan lagi. Jadi persiapkan fotocopy KTP-nya, periksa sebelum berangkat dan jangan sampai ketinggalan.
Setelah itu kita akan diberikan form dan diperintahkan untuk membayar di kasir biaya yang telah saya sebutkan tadi. Dari kasir, kita diberikan form dan diperintahkan langsung menuju ke Lab untuk pemeriksaan narkoba. Segera berikan form tersebut pada petugas agar dapat ikut mengantri.
Nama kita akan dipanggil dan diberikan tempat untuk menaruh urine kita. Hasilnya cepat, sekitar 20 menit (mungkin saat itu sedikit yang mengantri). Dilanjutkan untuk kembali ke gedung MCU untuk test kesehatan. Di gedung MCU sudah standby dokter yang akan memeriksa denyut nadi, detak jantung dan tensi kita.
Hanya itu saja? Iya hanya itu saja test kesehatan yang dijalani untuk paket A1. Jadi test kesehatan tergantung paket apa yang akan kita ambil.
Selesai diperiksa tensi darah, denyut nadi dan detak jantung maka selesai pula serangkaian proses MCU. Kurang lebih hanya 1 jam saja. Saran saya kalau mau lebih cepat maka datanglah pada saat pembukaan pendaftaran, yaitu jam 08.00. Pelayanan MCU di RSUD rata-rata dari jam 08.00 sampai jam 12.00. Dan pendaftaran akan ditutup jam 11.00.
Semoga bermanfaat untuk postingan kali ini..
Wassalamu'alaikum..
Persyaratan Pembuatan SKCK (Februari 2016)
Assalamu'alaikum..
Mungkin masih banyak yang belum tau apa-apa saja persyaratan dalam pembuatan SKCK.
Kebetulan belum lama ini saya baru saja mengurus pembuatan SKCK.
Ini dia persyaratannya:
1. Fotocopy KTP
2. Fotocopy Kartu Keluarga (KK)
3. Pas Foto 4x6 sebanyak 3 lembar & 2x3 sebanyak 1 lembar (Background warna merah)
4. Fotocopy Akte kelahiran/ Akte kenal lahir/ Ijazah
Proses yang pertama kali adalah kita memberikan berkas yang telah dilengkapi kepada petugas yang mengurus SKCK. Setelah itu petugas akan menyuruh kita test sidik jari di tempat yang telah disediakan di Polsek.
Bagi yang sudah pernah membuat SKCK, SKCK yang lama jangan dibuang gitu aja.. bisa dibawa untuk dikasih ke petugasnya. Karena di SKCK tersebut sudah ada rumusan sidik jari kita. Jadi kita tidak perlu melakukan test sidik jari lagi (mengurangi waktu antrian, jadi bisa lebih cepat.. hehehee).
Oia untuk masa aktif SKCK hanya 6 bulan, kalau sudah lewat ya sudah tidak berlaku. Jam pelayanan pembuatan SKCK jam 08.00 sampai dengan jam 14.00.
Setelah semua persyaratan sudah lengkap (termasuk rumusan sidik jari), segera kasih ke petugasnya. Kita akan diminta uang admin sebesar Rp. 25.000, Setelah itu kita akan segera diberikan kertas sebesar kertas folio yang berisi data-data yang harus kita lengkapi. Selesai melengkapi data-data, kertas tersebut langsung diberikan ke petugas.
Selanjutnya kita tinggal menunggu. Cepat atau lamanya tergantung banyak atau tidaknya antrian saat kita datang. Kalau SKCK sudah jadi akan dipanggil oleh petugas.
Eits, jangan langsung pulang ya.. Kalau yang ingin melamar pekerjaan di beberapa tempat atau membutuhkan SKCK untuk beberapa keperluan, segera cari tempat fotocopyan terdekat. Fotocopy-nya dilebihkan sedikit dari jumlah yang dibutuhkan, biar tidak bolak-balik ke Polsek lagi. Kalau fotocopy SKCK sudah ditangan, maka segera balik lagi ke Polsek untuk meminta legalisir.
Oia, mungkin banyak yang sudah tahu dan banyak juga yang belum tahu mengenai surat pengantar dari kelurahan. Saat ini, surat pengantar dari kelurahan untuk pembuatan SKCK sudah tidak dibutuhkan (saya membuat SKCK di Polses Bekasi Timur).
Kata petugasnya Akte kelahiran/ Akte kenal lahir atau Ijazah fungsinya sudah sama dengan surat pengantar dari kelurahan. Lumayan lagi kan.. mengurangi pengeluaran. Karena tidak dipungkiri ketika kita membuat surat pengantar ke kelurahan dikenakan biaya oleh pegawai kelurahan. Iya kan? Saya sih dikenakan Rp. 10.000 (bisa buat beli ketoprak sepiring.. hohohoo).
Yang terakhir.. seinget saya untuk pembuatan SKCK untuk PNS pembuatannya bukan di Polsek melainkan di Polres (untuk daerah Bekasi, tempatnya berada di Bulan-bulan dekat dengan Pengadilan Negeri dan RSUD Bekasi). Jadi yang di polsek hanya menerima pembuatan SKCK untuk melamar pekerjaan biasa saja. Itu seinget saya ya,, hehhee.. coba di konfirmasi lagi aja, jangan sampai jadi bolak balik karena kurangnya informasi yang diperoleh.
Semoga postingan saya bisa memberikan informasi bagi yang membutuhkan ^^
Wassalamu'alaikum..
Mungkin masih banyak yang belum tau apa-apa saja persyaratan dalam pembuatan SKCK.
Kebetulan belum lama ini saya baru saja mengurus pembuatan SKCK.
Ini dia persyaratannya:
1. Fotocopy KTP
2. Fotocopy Kartu Keluarga (KK)
3. Pas Foto 4x6 sebanyak 3 lembar & 2x3 sebanyak 1 lembar (Background warna merah)
4. Fotocopy Akte kelahiran/ Akte kenal lahir/ Ijazah
Proses yang pertama kali adalah kita memberikan berkas yang telah dilengkapi kepada petugas yang mengurus SKCK. Setelah itu petugas akan menyuruh kita test sidik jari di tempat yang telah disediakan di Polsek.
Bagi yang sudah pernah membuat SKCK, SKCK yang lama jangan dibuang gitu aja.. bisa dibawa untuk dikasih ke petugasnya. Karena di SKCK tersebut sudah ada rumusan sidik jari kita. Jadi kita tidak perlu melakukan test sidik jari lagi (mengurangi waktu antrian, jadi bisa lebih cepat.. hehehee).
Oia untuk masa aktif SKCK hanya 6 bulan, kalau sudah lewat ya sudah tidak berlaku. Jam pelayanan pembuatan SKCK jam 08.00 sampai dengan jam 14.00.
Setelah semua persyaratan sudah lengkap (termasuk rumusan sidik jari), segera kasih ke petugasnya. Kita akan diminta uang admin sebesar Rp. 25.000, Setelah itu kita akan segera diberikan kertas sebesar kertas folio yang berisi data-data yang harus kita lengkapi. Selesai melengkapi data-data, kertas tersebut langsung diberikan ke petugas.
Selanjutnya kita tinggal menunggu. Cepat atau lamanya tergantung banyak atau tidaknya antrian saat kita datang. Kalau SKCK sudah jadi akan dipanggil oleh petugas.
Eits, jangan langsung pulang ya.. Kalau yang ingin melamar pekerjaan di beberapa tempat atau membutuhkan SKCK untuk beberapa keperluan, segera cari tempat fotocopyan terdekat. Fotocopy-nya dilebihkan sedikit dari jumlah yang dibutuhkan, biar tidak bolak-balik ke Polsek lagi. Kalau fotocopy SKCK sudah ditangan, maka segera balik lagi ke Polsek untuk meminta legalisir.
Oia, mungkin banyak yang sudah tahu dan banyak juga yang belum tahu mengenai surat pengantar dari kelurahan. Saat ini, surat pengantar dari kelurahan untuk pembuatan SKCK sudah tidak dibutuhkan (saya membuat SKCK di Polses Bekasi Timur).
Kata petugasnya Akte kelahiran/ Akte kenal lahir atau Ijazah fungsinya sudah sama dengan surat pengantar dari kelurahan. Lumayan lagi kan.. mengurangi pengeluaran. Karena tidak dipungkiri ketika kita membuat surat pengantar ke kelurahan dikenakan biaya oleh pegawai kelurahan. Iya kan? Saya sih dikenakan Rp. 10.000 (bisa buat beli ketoprak sepiring.. hohohoo).
Yang terakhir.. seinget saya untuk pembuatan SKCK untuk PNS pembuatannya bukan di Polsek melainkan di Polres (untuk daerah Bekasi, tempatnya berada di Bulan-bulan dekat dengan Pengadilan Negeri dan RSUD Bekasi). Jadi yang di polsek hanya menerima pembuatan SKCK untuk melamar pekerjaan biasa saja. Itu seinget saya ya,, hehhee.. coba di konfirmasi lagi aja, jangan sampai jadi bolak balik karena kurangnya informasi yang diperoleh.
Semoga postingan saya bisa memberikan informasi bagi yang membutuhkan ^^
Wassalamu'alaikum..
Jumat, 19 Februari 2016
Purwokerto - Wonosobo (Dieng)
Assalamu'alaikum..
Berawal dari keisengan saya mencari tiket ekonomi dan keinginan ke Dieng yang sudah terpendam sejak lama, akhirnya 3 bulan yang lalu saya meng-issued tiket kereta ekonomi pulang pergi ke purwokerto.
Untuk tiket berangkat saya membeli tiket kereta api Kutojaya dengan harga Rp. 80,000, sedangkan pulangnya sudah penuh untuk kereta api yang sama, akhirnya saya membeli tiket kereta api Serayu Malam dengan harga Rp. 70,000.
Karena harganya lebih murah, sudah pasti timbul pertanyaan di hati saya "fasilitas apa yang berbeda dengan kereta api Kutojaya?"
Ternyata fasilitasnya sama persis, hanya saja jam perjalanannya jauh lebih lama. Untuk kereta api Kutojaya hanya memakan waktu kurang lebih 5 jam 20 menit sedangkan untuk kereta api Serayu Malam memakan waktu 12 jam (bahkan ada keterlambatan selama setengah jam ketika sampai di stasiun senen).
Noted: Usahakan berangkat dan pulang dengan kereta yang perjalanannya lebih singkat, jadi bisa cepat sampai dan sisa waktu yang ada bisa untuk istirahat ^^
Sesampainya di stasiun purwokerto saya dan yang lainnya menunggu driver dan mobil sewaan menjemput kami. Tetapi semua tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.
Saya sudah memberitahu driver sejak saya membeli tiket kereta api (kurang lebih sejak 3 bulan yang lalu) bahkan ketika saya dan driver berkomunikasi pun selalu saya ingatkan jam kedatangan.
Mungkin ini yang dinamakan 'apes'. Driver datang jam 12.15, itu artinya saya menunggu sekitar selama 1,5 jam di stasiun. Kebayang dong gimana betenya saya dan yang lainnya pada saat itu.
Noted: Usahakan menyewa mobil dan driver yang profesional, jadi kita tidak akan dibiarkan lama menunggu dengan alasan yang klasik yaitu macet. Padahal selama perjalanan purwokerto - wonosobo dan wonosobo - purwokerto, saya sama sekali tidak mengalami kemacetan.
Sesuai dengan rencana, maka rute pertama menuju Baturaden. Tetapi sebelum menuju ke Baturaden, driver menyarankan untuk mampir ke alun-alun Purwokerto. Mampir sebentar disana untuk mengabadikan foto (sebagai bukti saya pernah Purwokerto, hehehee). Di alun-alun purwokerto terdapat air mancur yang cukup indah.. di malam hari akan nampak lebih indah karena lampu warna warni yang menghiasi air mancur tersebut.
Lanjut ke Baturaden yang hanya menempuh jarak sekitar 15 menit. Tiket masuk per orang dikenakan sebesar Rp. 14,000.
Noted: Agar bisa berlama-lama mengexplore keindahan Baturaden, saya sarankan untuk datang tidak terlalu sore. Karena jika matahari sudah bersembunyi, pemandangan tidak bisa dinikmati.
Jam 4 sore perjalanan dimulai menuju ke Wonosobo, melewati kota Purbalingga dan Banjarnegara.
Dengan menempuh waktu 4 jam, akhirnya sampailah saya di kota Wonosobo. Dinginnya udara disana tidak menyurutkan semangat saya dan yang lainnya untuk berburu kuliner, terutama mie ongklok khas Wonosobo.
Mie ongklok yang saya makan di bandrol Rp. 12,000. Saya rasa ini harga yang tidak seharusnya, karena nasi goreng dibandrol Rp. 15,000 sedangkan di pertigaan jalan ada tukang nasi goreng hanya dengan harga Rp. 12,000. Nasi goreng khas wonosobo dilengkapi sayuran, terutama kol.
Dan ketika saya mencoba kafe di losmen yang saya sewa, harga nasi goreng hanya dikenakan Rp. 10,000 saja. Kalau untuk rasa, menurut saya sih lebih enak nasi goreng di kafe losmen.
Noted: Jangan membeli makanan hanya karena lapar mata, dan usahakan mencari tempat yang ramai pengunjungnya.. memungkinkan makanan yang dijual memiliki rasa yang enak.
Saya menyewa losmen 'Bu Djono' yang pasti sudah tidak asing di telinga para backpaker. Losmen ini terkenal dengan harganya yang murah. Untuk kamar mandi luar dikenakan Rp. 75,000 sedangkan untuk kamar mandi dalam dikenakan Rp. 125,000.
Untuk DP, pak Kelik hanya mengenakan Rp. 100.000 saja.
Fasilitas yang ditawarkan yaitu 1 tempat tidur ukuran queen, 1 selimut, 2 bantal dan terdapat water heater di kamar mandi (Kamar yang saya dapatkan di lantai 3).
Kalau menurut saya untuk harga Rp. 75,000, fasilitas yang saya dapatkan sudah cukup oke.
Terdapat kafe di lantai dasar losmen, harga yang ditawarkan pun terjangkau dengan kantong para backpaker.
Namun pada hari terakhir saya menginap, water heater rusak.. yang menyebabkan saya mandi air dingin pada 3/4 bagian akhir.. karena awal-awal water heater masih bisa digunakan.
Pelayanan disana memuaskan. Terutama pada saat water heater mati, saya meminta salah seorang pelayan merebuskan air panas dan dilayani tanpa keterpaksaan.
Air panas untuk minum tidak dibandrol, malahan ditawarin sama pelayannya. Jadi yang mau hemat ga beli kopi di warung luar, bisa bawa kopi sachet terus seduh sendiri deh.. tapi jangan banyak-banyak ya.. sekali-kali boleh lah beli di kafenya, hehehee
Noted: Sewa lah losmen dari jauh-jauh hari, agar masih bisa memilih kamar yang memiliki kamar mandi di dalam atau kamar mandi diluar (biasanya yang cepat habis yang kamar mandi dalam). Apalagi kalau kita mau menginap di high season, usahakan dari 2 atau bahkan 3 bulan sebelumnya.
Hari kedua di wonosobo dimulai dengan perjalanan ke bukit sikunir.
Kalau ada yang tanya mau ngapain ke bukit sikunir, jawabannya adalah untuk mengejar sunrise. Disana terkenal sekali dengan golden sunrise-nya. Hanya saja karena saya berlibur disaat musim hujan, maka gerimis menemani saya sampai ke puncak bukit. Sehingga matahari pun malu-malu untuk menampakkan dirinya.
Noted: Kalau besoknya mau ke bukit sikunir, jangan begadang di malam harinya. Karena perjalanan ke bukit sikunir cukup padat merayap, usahakan maksimal jam 3 sudah jalan (ini kalau posisi menginap di losmen Bu Djono). Dan kalau kesana bersama rombongan, usahakan jangan berpencar.. atau boleh saja berpencar namun bikin schedule untuk bertemu dimana dan jam berapa, jadi tidak saling mencari.
Perincian Biaya:
Kereta ekonomi Kutoarjo Utara = Rp. 80.000
Kereta ekonomi Serayu Malam = Rp. 70.000
Penginapan per malam = Rp. 75.000
Tiket Baturaden = Rp. 14.000
Tiket Candi Arjuna + Kawah Sikidang = Rp. 15.000
Tiket Telaga Warna = Rp. 7.500 (Weekend)
Bukit Sikunir = Rp. 10.000
CP Losmen Bu Djono:
Pak Kelik (085226645669)
Berawal dari keisengan saya mencari tiket ekonomi dan keinginan ke Dieng yang sudah terpendam sejak lama, akhirnya 3 bulan yang lalu saya meng-issued tiket kereta ekonomi pulang pergi ke purwokerto.
Untuk tiket berangkat saya membeli tiket kereta api Kutojaya dengan harga Rp. 80,000, sedangkan pulangnya sudah penuh untuk kereta api yang sama, akhirnya saya membeli tiket kereta api Serayu Malam dengan harga Rp. 70,000.
Karena harganya lebih murah, sudah pasti timbul pertanyaan di hati saya "fasilitas apa yang berbeda dengan kereta api Kutojaya?"
Ternyata fasilitasnya sama persis, hanya saja jam perjalanannya jauh lebih lama. Untuk kereta api Kutojaya hanya memakan waktu kurang lebih 5 jam 20 menit sedangkan untuk kereta api Serayu Malam memakan waktu 12 jam (bahkan ada keterlambatan selama setengah jam ketika sampai di stasiun senen).
Noted: Usahakan berangkat dan pulang dengan kereta yang perjalanannya lebih singkat, jadi bisa cepat sampai dan sisa waktu yang ada bisa untuk istirahat ^^
Sesampainya di stasiun purwokerto saya dan yang lainnya menunggu driver dan mobil sewaan menjemput kami. Tetapi semua tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.
Saya sudah memberitahu driver sejak saya membeli tiket kereta api (kurang lebih sejak 3 bulan yang lalu) bahkan ketika saya dan driver berkomunikasi pun selalu saya ingatkan jam kedatangan.
Mungkin ini yang dinamakan 'apes'. Driver datang jam 12.15, itu artinya saya menunggu sekitar selama 1,5 jam di stasiun. Kebayang dong gimana betenya saya dan yang lainnya pada saat itu.
Noted: Usahakan menyewa mobil dan driver yang profesional, jadi kita tidak akan dibiarkan lama menunggu dengan alasan yang klasik yaitu macet. Padahal selama perjalanan purwokerto - wonosobo dan wonosobo - purwokerto, saya sama sekali tidak mengalami kemacetan.
Sesuai dengan rencana, maka rute pertama menuju Baturaden. Tetapi sebelum menuju ke Baturaden, driver menyarankan untuk mampir ke alun-alun Purwokerto. Mampir sebentar disana untuk mengabadikan foto (sebagai bukti saya pernah Purwokerto, hehehee). Di alun-alun purwokerto terdapat air mancur yang cukup indah.. di malam hari akan nampak lebih indah karena lampu warna warni yang menghiasi air mancur tersebut.
Lanjut ke Baturaden yang hanya menempuh jarak sekitar 15 menit. Tiket masuk per orang dikenakan sebesar Rp. 14,000.
Noted: Agar bisa berlama-lama mengexplore keindahan Baturaden, saya sarankan untuk datang tidak terlalu sore. Karena jika matahari sudah bersembunyi, pemandangan tidak bisa dinikmati.
Jam 4 sore perjalanan dimulai menuju ke Wonosobo, melewati kota Purbalingga dan Banjarnegara.
Dengan menempuh waktu 4 jam, akhirnya sampailah saya di kota Wonosobo. Dinginnya udara disana tidak menyurutkan semangat saya dan yang lainnya untuk berburu kuliner, terutama mie ongklok khas Wonosobo.
Mie ongklok yang saya makan di bandrol Rp. 12,000. Saya rasa ini harga yang tidak seharusnya, karena nasi goreng dibandrol Rp. 15,000 sedangkan di pertigaan jalan ada tukang nasi goreng hanya dengan harga Rp. 12,000. Nasi goreng khas wonosobo dilengkapi sayuran, terutama kol.
Dan ketika saya mencoba kafe di losmen yang saya sewa, harga nasi goreng hanya dikenakan Rp. 10,000 saja. Kalau untuk rasa, menurut saya sih lebih enak nasi goreng di kafe losmen.
Noted: Jangan membeli makanan hanya karena lapar mata, dan usahakan mencari tempat yang ramai pengunjungnya.. memungkinkan makanan yang dijual memiliki rasa yang enak.
Ini penampakan nasi goreng di pertigaan dekat losmen Bu Djono
Dan yang ini adalah penampakan nasi goreng di kafe losmen Bu Djono
Daftar menu kafe di losmen Bu Djono
Untuk DP, pak Kelik hanya mengenakan Rp. 100.000 saja.
Fasilitas yang ditawarkan yaitu 1 tempat tidur ukuran queen, 1 selimut, 2 bantal dan terdapat water heater di kamar mandi (Kamar yang saya dapatkan di lantai 3).
Kalau menurut saya untuk harga Rp. 75,000, fasilitas yang saya dapatkan sudah cukup oke.
Terdapat kafe di lantai dasar losmen, harga yang ditawarkan pun terjangkau dengan kantong para backpaker.
Namun pada hari terakhir saya menginap, water heater rusak.. yang menyebabkan saya mandi air dingin pada 3/4 bagian akhir.. karena awal-awal water heater masih bisa digunakan.
Pelayanan disana memuaskan. Terutama pada saat water heater mati, saya meminta salah seorang pelayan merebuskan air panas dan dilayani tanpa keterpaksaan.
Air panas untuk minum tidak dibandrol, malahan ditawarin sama pelayannya. Jadi yang mau hemat ga beli kopi di warung luar, bisa bawa kopi sachet terus seduh sendiri deh.. tapi jangan banyak-banyak ya.. sekali-kali boleh lah beli di kafenya, hehehee
Noted: Sewa lah losmen dari jauh-jauh hari, agar masih bisa memilih kamar yang memiliki kamar mandi di dalam atau kamar mandi diluar (biasanya yang cepat habis yang kamar mandi dalam). Apalagi kalau kita mau menginap di high season, usahakan dari 2 atau bahkan 3 bulan sebelumnya.
Ini lho yang namanya Candi Arjuna ^^
Emang juara deh pemandangan di Dieng.. salah satunya pemandangan di Candi Arjuna..
Hari kedua di wonosobo dimulai dengan perjalanan ke bukit sikunir.
Kalau ada yang tanya mau ngapain ke bukit sikunir, jawabannya adalah untuk mengejar sunrise. Disana terkenal sekali dengan golden sunrise-nya. Hanya saja karena saya berlibur disaat musim hujan, maka gerimis menemani saya sampai ke puncak bukit. Sehingga matahari pun malu-malu untuk menampakkan dirinya.
Noted: Kalau besoknya mau ke bukit sikunir, jangan begadang di malam harinya. Karena perjalanan ke bukit sikunir cukup padat merayap, usahakan maksimal jam 3 sudah jalan (ini kalau posisi menginap di losmen Bu Djono). Dan kalau kesana bersama rombongan, usahakan jangan berpencar.. atau boleh saja berpencar namun bikin schedule untuk bertemu dimana dan jam berapa, jadi tidak saling mencari.
Pemandangan dibukit sikunir pada saat musim hujan saja sudah terlihat begitu indah..
Saya tidak bisa membayangkan pemandangan pada saat musim kemarau yang katanya jauh lebih indah dari pemandangan ini..
Berlatarkan sunrise dari balik gunung sindoro
Yang dibawah itu telaga cebong (Maklum yang ambil foto masih amatiran.. hehehe)..
terlihat disana ada lahan yang akan dibangun.. sepertinya akan semakin ramai dengan warung-warung baru..
Perjalanan pulang dari wonosobo agak tersendat sebentar dikarenakan adanya tanah longsor.
Macet di sekitar dataran tinggi Dieng masih terasa menyenangkan, karena dikanan dan kiri pemandangan indah disajikan untuk para pengguna jalan. Jadi jangan membayangkan macet seperti di Jakarta..
Tanah longsor membuat perjalanan pulang jadi lebih lama sekitar setengah sampai satu jam.
Sampai di purwokerto jam 15.30, dan driver mengajak kami makan Raja Soto Lama.
Sang driver mengatakan dari tempat kami makan menuju stasiun hanya sekitar 15 menit. Dan termyata ketika selesai makan jam 16.00 kami menuju stasiun, bukan 15 menit yang kami tempuh melainkan 30 menit.
Kebayang kan paniknya kita semua karena bertepatan dengan jam kereta berangkat.
Ini adalah kali pertama saya kejar-kejaran dengan keberangkatan kereta. Sampai-sampai ketika tiket saya di verifikasi oleh petugas sudah tidak di terima oleh mesin scan petugas, saya intip ternyata tiket saya sudah kadaluarsa. Mungkin karena saat itu bertepatan dengan jam keberangkatan kereta.
Petugas melihat kearah kami yang sudah memasang muka panik sambil memperhatikan kereta Serayu Malam terdapat dijalur berapa.
Finally saya dan rombongan langsung masuk tanpa scan tiket, kemudian langsung menuju jalur 2 sesuai info dari petugas. Dan kami pun langsung masuk ke gerbong yang bukan merupakan gerbong tiket, kami menuju gerbong setelah naik ke dalam kereta.
Bye purwokerto..
Noted: Meskipun driver mengatakan waktu yang dibutuhkan selama sekian jam, lebihkan sekitar 1 jam dari perkiraan. Perjalanan yang tergesa-gesa membuat driver membawa kendaraan menjadi tidak nyaman. Dan ketika kita sampai stasiun sudah dekat dengan jam keberangkatan kereta atau bertepatan dengan jam keberangkatan kereta, maka tidak perlu memusingkan gerbong tiket kita ada dimana. Utamakan untuk naik kereta terlebih dahulu. Baru nanti setelah naik, kita mencari gerbong sesuai tiket.
Kereta ekonomi Kutoarjo Utara = Rp. 80.000
Kereta ekonomi Serayu Malam = Rp. 70.000
Penginapan per malam = Rp. 75.000
Tiket Baturaden = Rp. 14.000
Tiket Candi Arjuna + Kawah Sikidang = Rp. 15.000
Tiket Telaga Warna = Rp. 7.500 (Weekend)
Bukit Sikunir = Rp. 10.000
CP Losmen Bu Djono:
Pak Kelik (085226645669)
Sekedar berbagi pengalaman.. semoga bisa memberikan tambahan informasi bagi yang ingin vacation ke Dieng, Wonosobo..
Waasalamu'alaikum..
Langganan:
Postingan (Atom)





























